Selasa, 25 Oktober 2011

Modulus Young

I. Tujuan
Menentukan elastisitas dari bahan kayu, kuningan.

II. Dasar Teori
Jika seseorang menarik sebuah pegas untuk melatih otot, maka pegas akan berubah bentuk, yaitu akan semakin panjang. Tetapi, bila pegas dilepaskan, maka pegas akan kembali kebentuk semula. Atau contoh lain yaitu pada ketapel yang terbuat dari karet. Pegas dan karet dalam hal ini merupakan benda dengan sifat elastic. Sifat elastic atau elastisitas adalah kemampuan suatu benda untuk kembali ke bentuk semula setelah gaya luar yang diberikan kepada benda itu dihilangkan.
Sedangkan benda yang tidak elastic adalah benda yang tidak kembali kebentuk semula saat gaya luar yang diberikan kepada benda tersebut dilepaskan. Misalnya pada tanah liat. Pada saat diberi gaya, tanah liat akan berubah bentuk. Namun setelah gaya tersebut dilepaskan, tanah liat tidak dapat kembali kebentuknya semula.
Berikut ini beberapa materi terkait Modulus Elastisitas atau Modulus Young.
1. Tegangan
Tegangan didefinisikan sebagai hasil bagi antara gaya tarik F yang dialami kawat dengan luas penampangnya (A) atau bisa juga disebut gaya persatuan luas. Tegangan dirumuskan sebagai berikut.
Dimana : = tegangan, satuannya atau Pascal ( Pa )
= gaya luar yang diberikan pada benda, satuannya
atau Newton ( N )
= luas penampang, satuannya

2. Regangan
Regangan didefinisikan sebagai hasil bagi antara pertambahan panjang dengan panjang awal pegas. Regangan dirumuskan sebagai berikut.
Dimana : = regangan
= perubahan panjang pegas, satuannya
= panjang pegas awal/semula, satuannya
Karena pertambahan panjang () dan adalah besaran yang sama, maka regangan tidak memiliki satuan atau dimensi.

3. Modulus Elastisitas
Kebanyakan benda adalah elastis sampai ke suatu gaya besarnya tertentu. Hal ini dinamakan batas elastis. Jika gaya yang diberikan pada benda lebih kecil dari batas elastisnya, maka benda tersebut akan kembale ke bentuk semulanya jika gaya tersebut dihilangkan. Tetapi jika gaya yang diberikan melampaui batas elastis, benda tak akan kembali ke bentuk semula, melainkan secara permanen berubah bentuk.
Modulus Elastisitas atau Modulus Young didefinisikan sebagai berikut:
Dimana : Modulus Elastisitas atau Modulus Young
tegangan
regangan
Dengan demikian, Modulus Young juga dapat disebut perbandingan antara tegangan dan regangan.

4. Hokum Hooke
Percobaan yang kita lakukan pada dasarnya adalah untuk mengetahui hubungan kuantitatif antara gaya yang dikerjakan pada pegas dengan pertambahan panjangnya. Setiap panjang pegas ketika diberi gaya tarik dengan panjang awalnya disebut pertambahan panjang. Jika dibuat grafik gaya terhadap perubahan panjang, maka akan didapat grafik berbentuk garis linear.
Hukum Hooke berbunyi : “ Jika gaya tarik tidak melampaui batas elastis pegas, maka pertambahan panjangnya akan sebanding dengan gaya tariknya”. Pernyataan ini dikemukakan oleh Robert Hooke, seorang arsitek yang ditugaskan membangun kembali gedung-gedung di London yang mengalami kebakaran pada tahun 1666. Oleh karena itu, pernyataan ini dikenal sebagai Hukum Hooke Hukum Hooke dapat dirumuskan sebagai berikut:

5. Tetapan Gaya Benda Elastis
Kita telah mengetahui hubungan antara gaya tarik ( F ) dengan Modulus Elastis ( E ) yang dinyatakan dalam persamaan :
Dengan mengolah persamaan diatas, sehingga gaya tarik ( F ) berada diruas kiri, dan diidentikkan dengan persamaan hukum Hooke, maka
Maka kita memperoleh rumus umum tetapan gaya benda elastis ( k )

6. Elastisitas Zat Padat
Molekul-molekul zat padat tersusun rapat sehingga ikatan diantara mereka relative kuat. Inilah mengapa sebabnya mengapa zat padat biasanya sukar dipecah-pecah dengan tangan. Sebagai contoh, untuk membelah kayu dibutuhkan alat lain dengan gaya yang lebih besar. Setiap usaha untuk memisahkan molekul-molekul zat padat, misalnya tarikan atau tekanan, akan selalu dilawan oleh gaya tarik menarik antar molekul zat padat itu sendiri. Benda disebut elastis sempurna jika benda akan kembali seperti semula jika gaya yang diberikan dihilangkan. Sebaliknya, benda yang tidak memiliki sifat elastik, tidak akan kembali ke bentuk semula. Perbedaan antara sifat elastik dan non elastik berada pada tingkatan besar-kecilnya elastisitas yang terjadi.
Perubahan benda akibat ditarik, tidak hanya bergantung pada jenis bahan benda tersebut, namun juga bergantung pada perlakuan yang diberikan kepada benda tersebut.
Nilai Modulus Young hanya bergantung pada jenis benda, tidak tergantung pada ukuran atau bentuk benda. Adapun Modulus Young benda yang bisa digunakan adalah sebagai berikut:
No
Jenis Benda
Modulus Young ( E )
(N/m2)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Aluminium
Baja
Besi
Beton
Nikel
Tembaga
Besi tuang
Kuningan
Granit
7,0 x 1010
20 x 1010
21 x 1010
2,3 x 1010
21 x 1010
11 x 1010
10 x 1010
10 x 1010
4,5 x 1010

III. Alat dan Bahan
1. Dua batang penyangga bahan
2. Cermin skala
3. Gantungan beban dengan jarum penunjuk
4. Beban pemberat
5. Jangka sorong
6. Batang kayu, kuningan masing-masing satu batang

IV. Langkah Percobaan
1. Ukur jarak antara ujung-ujung kedua batang penyangga sebagai L
2. Letakkan batang diatas penyangga dengan gantungan beban ditengah-tengah
3. Periksakan dulu pada pembimbing
4. Timbanglah beban
5. Amati kedudukan jarum penunjuk pada skala cermin dan catat hasil yang diperoleh
6. Setelah dicapai beban maksimum, kurangi satu persatu dan catat kedudukan kawat penunjuk
I. Pembahasan
Percobaan kali ini membahas mengenai “Modulus Young”. Modulus Young merupakan perbandingan antara tegangan dan regangan. Pada percobaan ini, seharusnya juga menggunakan batang besi, namun karena keterbatasan alat, pada percobaan ini hanya menggunakan batang kayu dan batang kuningan. Pada percobaan ini pengukuran hanya dilakukan satu kali tiap-tiap batang.
Pada dasarnya, percobaan ini hanyalah untuk mengetahui keelastisitasan suatu benda, apabila pada benda tersebut diberi suatu gaya. Benda-benda yang memiliki elastisitas disebut benda elastic. Sedangkan benda-benda yang tidak memiliki elastisitas (tidak kembali ke bentuk semula jika gaya luar dihilangkan) disebut benda-benda tidak elastic atau plastik.
Pada percobaan kali ini, digunakan gantungan beban dan cermin skala untuk mengetahui pertambahan panjang dari gantungan beban apabila ditambahkan beban satu per satu dengan berat yang sama sampai mencapai suatu gaya maksimum. Sebuah gaya tarik yang bekerja pada gantungan beban menyebabkan gantungan beban bertambah panjang dan akan segera kembali ke bentuk semula, jika gaya tarik tersebut dihilangkan, namun jika gaya yang diberikan melampaui gaya maksimum tersebut gantungan beban akan kehilangan sifat elastiknya. Dalam percobaan ditambahkan beban satu per satu pada gantungan beban kemudian dikurangi lagi satu per satu, dengan tujuan untuk mengetahui sifat keelastisitsan bahan tersebut dan untuk menentukan modulus elastisitas atau yang lebih dikenal dengan Modulus Young dr bahan tersebut.
Saat mengukur luas batang tidak ditemukan kesulitan karena bentuk batang kuningan dan kayu adalah tetap dan pasti sehingga tidak dibutuhkan pengukuran ulang. Didapat bahwa Modulus Young yang dihasilkan oleh batang kayu dan batang kuningan berbeda. Elastisitas kayu sebesar dan elastisitas kuningan sebesar . Hal ini disebabkan karena Modulus Young yang bergantung pada jenis benda (komposisi benda) dan tidak bergantung pada ukuran dan bentuk benda. Dri perhitungan didapat Modulus Young dari batang kuningan lebih besar dari batang kayu.
Kesulitan yang terjadi adalah dalam menentukan kedudukan kawat penunjuk dengan menggunakan cermin skala. Keterbatasan dan ketidak-baikan kerja alat menjadi pemicu utama ketidaktepatan pengukuran.

II. Kesimpulan
Dari data pengamatan dan hasil perhitunagn data, dapat disimpulkan bahwa :
1. Modulus Young berbanding lurus dengan gaya yang diberikan dan perubahan kedudukan kawat penunjuk. Dan berbanding terbalik dengan luas penampang dan panjang batang.
Sesuai dengan rumus Modulus Elastisitas :

E = (F.l)/(A.Δl)

2. Benda elastis adalah benda yang akan berubah bentuk jika diberikan gaya dan akan kembali kebentuk semula jika gaya luar yang diberikan dihilangkan.
3. Benda yang tidak memiliki sifat elastik, tidak akan kembali kebentuknya semula jika gayanya dihilangkan.
4. Benda non-elastik disebut plastik.
5. Bila gaya yang diberikan pada suatu benda elastis melebihi batas keelastisitasannya, maka benda tersebut akan berubah bentuk secara permanen, atau patah.
6. Batang kuningan lebih elastis dari batang kayu.
7. Modulus Yong bergantung pada jenis benda dan bukan bergantung pada bentuk dan ukuran benda.



Daftar Pustaka

Paramartha,Alit.2010.Penuntun Fisika Dasar II.laboratorium Fisika Dasar:Jimbaran-Bali
Giancoly, Douglas. 2001. Fisika. Erlangga:Jakarta.
Kanginan, Martheen. 2004. Fisika SMA 2A. Erlangga:Jakarta.
Syarifudin.2007.Intisari Fisika untuk SMA.Scientific Press:Jakarta

Senin, 24 Oktober 2011

Proposal Slide Ashar
Proposal. Pt Ashar

Minggu, 23 Oktober 2011

Proses Dasar dalam Kelompok ; FORMING

A. Pandangan Psikoanalisis
Freud : orang bergabung dalam kelompok karena keanggotaan dapat memuaskan kebutuhan dasar biologis dan psikologis tertentu.

Ada 2 proses pembentukan kelompok, yaitu:

1. Identifikasi
Energi emosi individu (libido) diarahkan ke dirinya dan orang lain. Individu menjadikan orang lain (orang tua) sebagai model egonya → EGO IDEAL. Penerimaan orang tua sebagai objek kasih sayang anak akan membentuk ikatan yang kuat → kepuasan melalui sense of belonging, kesalingtergantungan, perlindungan terhadap ancaman luar dan meningkatkan self development.

2. Transferen
Bagaimana pembentukan kelompok pada masa awal kehidupan individu mempengaruhi perilaku kelompok selanjutnya. Individu melihat pemimpin kelompok sebagai figur otoritas sebagaimana individu menganggap orang tuanya.


B. Pandangan Sosiobiologi
Menurut pandangan ini, orang bergabung dengan kelompok untuk memuaskan keinginan yang kuat untuk berafiliasi secara biologis.
Didasarkan teori evolusi dari Charles Darwin : bergabung dengan anggota lain dari satu spesies merupakan ekspresi strategi yang stabil secara evolusioner dan kultural dari individu yang dapat meningkatkan rerata kesuksesan reproduksi.

C. Pandangan Proses Pembandingan Sosial
Leon Festinger (1950, 1954) : orang membutuhkan orang lain karena mereka membutuhkan informasi tentang diri mereka dan lingkungan mereka dan kebutuhan akan informasi. Ini hanya dapat dipenuhi dari orang lain. Individu membandingkan diri mereka dengan orang lain tentang keyakinan, opini dan sikap mereka → apakah benar, valid, sesuai.

D. Pandangan Pertukaran Sosial

Model ketertarikan kelompok, dengan mempertimbangkan :
1. reward
2. cost
→ minimax principle (berusaha untuk mendapatkan reward yang sebesarbesarnya
dan mengurangi cost yang sekecil-kecilnya).

Tahap STROMING ; Konflik dalam Kelompok

Munculnya disagreement, pertengkaran dan friksi diantara anggota kelompok yang melibatkan kata-kata, emosi dan tindakan.

Tahap-tahap perkembangan konflik:
1. Disagreement
Perlu segera diindentifikasi disagreementnya:
• apakah benar-benar ada atau sekedar kesalahpahaman
• apakah perlu segera ditangani atau terselesaikan sendiri
• jika benar-benar ada dan menyangkut beberapa faktor situasional minor.

2. Confrontation
Dua orang atau lebih saling bertentangan → verbal attack.
Diakhir tahap ini, tingkat koalisi (sub kelompok dalam kelompok) dimana anggota kelompok menjadi terpolarisasi (membentuk blok-blok).

3. Escalation
Pada tahap ini, anggota kelompok menjadi semakin kasar, suka memaksa, mengancam, sampai pada kekerasan fisik → timbul mosi tidak percaya (distrust), frustasi dan negatif reciprocity.

4. Deescalation
Berkurang atau menurunnya konflik.
Anggota mulai sadar waktu dan energi yang terbuang sia-sia dengan berdebat.

Mekanisme pengolahan konflik:
a. Negosiasi : secara interpersonal sengan asumsi bahwa tiap orang akan mendapatkan keuntungan dengan adanya situasi :
- distributive issues : negosiasi berhasil, satu pihak puas, pihak yang lain
mengikuti karena pihak yang lain itu memiliki power
- integrative issues : negosiasi berhasil, kedua pihak merasa puas (win
win solution)
b. Membangun kepercayaan : dengan mengkomunikasikan keinginan individu secara hati-hati dan harus konsisten antara apa yang diomongkan dengan perilaku aktualnya.

5. Conflict Resolution
Tiap konflik sampai pada tahap ini, meskipun tidak semua pihak puas akan hasilnya.

Penyebab konflik :
1. Interdepence
Tidak semua interdependence menyebabkan konflik, jika:
a. ada kerjasama antar anggota dalam interdepence shg konflik ↓
b. ada kompetisi antar anggota dalam interdepence shg konflik ↑
Deutch (1949):
Pure cooperation → promotive interdependence : dengan menolong
Pure competition → contrient interdependence : anggota bisa meraih tujuannya hanya jika anggota lain gagal memilihnya.

2. Influence stategies
Strategi-strategi untuk mempengaruhi orang lain, ancaman, hukuman
dan negatif reinforcement → meningkatkan konflik

3. Misunderstanding dan misperception

Tahap NORMING ; Pembentukan Struktur Kelompok

1. Peran (role)
Peran (role) merupakan perilaku yang biasanya ditampilkan orang sebagai anggota kelompok yang menyediakan basis harapan berkaitan dengan perilaku orang dalam posisi yang bervariasi dalam kelompok.

Perbedaan peran :
Task roles → tugas
Socioemotional roles → sosioemosi

Teori 3 dimensi peran :
a. dominance – submission
b. friendly – unfriendly
c. instrumentally controlled – emotionally eupressive

Konflik peran :
interrole : konflik antara 2 atau lebih peran yang dijalani oleh 1 orang
intrarole : konflik antara peran 1 orang dengan peran orang lain

2. Norma (norm)
Norma (norm) merupakan aturan-aturan yang menggambarkan tindakantindakan yang seharusnya diambil oleh anggota kelompok.

3. Hubungan antar anggota
→ otoritas, hubungan ketertarikan, hubungan komunikasi

Tahap PERFORMING ; Bekerjasama dalam Kelompok

Percobaan Norman Triplett (1897) tentang fasilitasi sosial yaitu situasi dimana kehadiran orang lain akan meningkatkan kinerja seseorang.

A. Coaction Paradigm
→ beberapa orang melakukan tugas dan ditempat yang sama, tetapi tidak saling berinteraksi, misalnya: ujian dikelas.

B. Audience Paradigm (passive spectators)
→ kehadiran orang lain justru menghambat kinerja, misalnya: menghapal pelajaran ditengah orang banyak.
Penelitian Robert Zajonc:
Respon dominan.
→ fasilitasi sosial yang ada meningkatkan kinerja seseorang, maka respon dominan itu sesuai.
Respon nondominan
→ fasilitasi sosial yang ada menurunkan kinerja seseorang, maka respon dominan itu tidak sesuai.

Penyebab fasilitasi sosial:
1. adanya dorongan
2. kekhawatiran akan penilaian (evaluasi) orang lain
3. distraksi (perhatian yang terpecah)

Performance Dalam Kelompok yang Berinteraksi
Tipologi tugas dari Steiner didasarkan pada kombinasi antara:
- jenis-jenis tugas yang dapat dibagi
- jenis-jenis hasil yang diinginkan
- prosedur-prosedur individu dalam memberi masukan

Memprediksi Performance Kelompok
Klasifikasi tugas penting karena:
- Tipe tipe tugas yang berbeda memerlukan sumber daya yang berbeda.
- Jika anggota kelompok mempunyai sumberdaya tersebut maka akan sukses.

Deindividuasi ; Proses Hilangnya Kesadaran Individu

Deindividuasi merupakan proses hilangnya kesadaran individu karena melebur di dalam kelompok → pikiran kolektif.

Perspektif Teoritis.
1. Teori Perilaku Kolektif
Kolektif : kumpulan individu yang lebih daripada skedar agregrat, tapi juga bukan kelompok sebenarnya.

Tipe kolektif:
a. Social Agregrat : collective outburst (riots, mobs, dsb)
b. Collective Movement : organisasi politik, kampanye nasional, dsb

a. Teori Konvergen
Agregrat mewakili orang dengan kebutuhan, keinginan dan emosi situasi crowd memicu pelepasan spontan dari perilaku-perilaku yang sebelumnya terkontrol.

b. Teori Contagion (Penularan)
Emosi dan perilaku dapat ditransmisi ‘(ditular)’ dari satu orang ke orang lain sehingga orang cenderung berperilaku sangat mirip dengan orang lain.

c. Teori Emergent-Norm (Perkembangan Norma)
Teori gabungan konvergen – contagion, crowd, mob dan kolektif lainnya hanya kelihatan setuju sepenuhnya dalam emosi dan perilaku karena anggotanya patuh pada norma yang relevan dalam situasi tertentu.

Groupthink ; Berpikir Serentak Sama

Groupthink merupakan proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif dimana anggota-anggotanya berusaha mempertahankan konsensus kelompok sehingga kemampuan kritisnya menjadi tidak efektif lagi.

Gejala:

1. Pencarian kesepakatan yang terlalu dini
a. Tingginya tekanan konformitas
b. Sensor diri terhadap ide-ide yang tidak disetujui
c. Adanya minguard
- Gate keeping : mencegah informasi dari luar agar jangan sampai mempengaruhi kesepakatan kelompok.
- Dissent containment : mengabaikan mereka-mereka yang memiliki ide-ide yang bertentangan dengan kesepakatan.
d. Persetujuan yang tampak

2. Ilusi dan mispersepsi
a. Ilusi invulnerability → kelompok selalu benar dan kuat
b. Ilusi moral
c. Persepsi bias tentang out group → buas, jelek, dll
d. Collective rationalizing

Penyebab:

• kohesi yang ekstrem
• isolasi, leadership dan konflik decisional
• proses polarisasi


Pencegahan:

1. Membatasi pencarian keputusan secara dini
a. meningkatkan open inquiry
b. kepemimpinan yang efektif
c. multiple group → subgroup

2. Mengoreksi mispersepsi dan error
a. mengakui keterbatasan
b. empati
c. pertemuan ‘kesempatan kedua’

3. Menggunakan teknik-teknik keputusan yang efektif
Tahap I : kelompok harus terima tantangan dengan memilih solusi yang mungkin terbaik.
Tahap II : kelompok harus mencari alternatif solusi dengan membuat
daftar
Tahap III : evaluasi sistematik terhadap alternatif-alternatif pada
tahap-tahap hasil = konsensus
Tahap IV : mengubah konsensus menjadi keputusan
Tahap V : mematuhi keputusan yang diambil.

Kohesivitas Kelompok

A. Definisi
Collins dan Raven (1964) : kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal di dalam kelompok dan mencegahnya meninggalkan kelompok.

B. Alat Ukur
1. Ketertarikan interpersonal antar anggota
2. Ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok
3. Sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan personalnya (Mc David dan Harary) Kelompok yang makin kohesif, maka:

- tingkat kepuasan makin besar
- anggota merasa aman dan terlindungi
- komunikasi lebih efektif, bebas, terbuka dan sering
- makin mudah terjadi konformitas → anggota makin mudah tunduk pada norma kelompok dan makin tidak toleran pada devian.

Motivasi dan Tujuan Kelompok



A. Definisi
(1) Proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang, timbul dari dalam diri (intrinsik) atau dari luar diri (ekstrinsik) karena adanya rangsangan.
(2) Dorongan kerja yang timbul pada diri seseorang untuk berperilaku dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.
(3) Suatu usaha sadar untuk mempengaruhi perilaku seseorang agar mengarah pada tercapainya tujuan organisasi.

B. Teori-teori Motivasi
1. Teori Kebutuhan
- tindakan manusia pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhannya
Tokoh : Maslow, Herzberg, Mc Clleland, Vroom

a. Satisfaction of Needs Theory (Maslow)

-menyusun tingkat kebutuhan manusia.

b. Motivation Maintenance Theory (Herzberg)
Ada 2 faktor yang mempengaruhi individu:
- Satisfiers = intrinsic factor
Maslow = higher order needs (self esteem dan self actualization)
- Dissatisfiers = extrinsic factor
Maslow = lower order needs (fisiologis, security dan social)

c. Teori Kebutuhan dari Mc Clleland
- Need of power
- Need of affiliation
- Need of achievement
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi:
1. ciri-ciri pribadi individu (individual characteristic)
2. tingkat dan jenis pekerjaan (job characteristic)
3. lingkungan (environmental situations)

Kekuasaan dalam Kelompok

A. Definisi
1) Weber : kemungkinan dimana seseorang di dalam hubungan sosialnya mempunyai posisi untuk melakukan keinginannya tanpa perlawanan.
2) Buckley : kendali atau pengaruh atas perilaku orang lain untuk mendukung pandangan seseorang tanpa sepengetahuan mereka, bertentangan dengan keinginan atau pemahaman mereka.
3) Kipnis : interaksi antara dua pihak, pemegang kekuasaan dan target person, dimana perilaku tadi diarahkan oleh pemegang kekuasaan.
4) Kekuasaan koersif : memaksa, bentuk-bentuk legitimasi dari pengaruh sosial, seperti ancaman, hukuman.

B. Dasar-dasar atau Sumber-sumber Kekuasaan
1. Reward
2. Coersive
3. Legitimate
4. Referent
5. Expert

C. Proses-proses Kekuasaan
1. Adanya kepatuhan.
2. Formasi Koalisi (sub kelompok dalam kelompok yang lebih besar).

Perubahan-perubahan dalam power holder:
1. Memperlebar jarak sosial antara dirinya dengan orang lain yang tidak punya power.
2. Yakin bahwa yang nonpowerful tidak dapat dipercaya dan butuh “waskat” (pengawasan yang ketat).
3. Tidak menilai pekerjaan dan kemampuan dari orang yang kurang berkuasa.

Perubahan-perubahan ketika powerless:
a. pasif dan menerima situasi.
b. memberontak akan ketidaksamaan dan berusaha mendapatkan persamaan struktur.
c. berusaha meningkatkan power secara tertutup dengan koalisi.
d. menarik diri secara total dari kelompok.
MOTIVATION

Emotional energy is powerful! This session will show you how to ignite your natural energy into a moving force to take action!
Twenty seven years of distance running has taught me that certain things in life are just worth doing...for "me"! WHO is the "ME" in YOU?! This program is about how YOU turn YOU ON! I am not an exercise junkie, guru, or personal trainer. I am however, someone who likes to have fun. And that’s what we will be talking about—not making something fun, but allowing it to be FUN, INTERESTING, ENJOYABLE AND ENTERTAINING! You can apply these principles to all areas of YOUR life!
HOW TO ATTAIN GREATNESS THROUGH SELF-MOTIVATION

1. UNDERSTANDING GREATNESS
Greatness is more than success; whereas success is limited to a particular area, at a particular time of one’s life, greatness is a wholesome phenomenon. Greatness is a combination of several successes in a person’s life that brings him public recognition and personal fulfillment. It is an immeasurable state of achievement in life.

A great warrior is one who has fought and won several battles and wars. In life there are several battles, some are spiritual, while some are physical.
These battles go on in different areas such as finances, family, friends, health, business, education, leadership and even religion etc. When success is attained in all or majority of these areas, then the person who attains such successes can be branded as a great personality.

You are not truly great until other people become successful through your direct or indirect input. To be great in life, you need to be committed to ensuring that you raise several successful people in your LIFE’S NETWORK.
Your greatness is only confirmed by the testimonials from this network of successful people. The bottom line is; you can never be great without impacting positively on other people.

2. WHAT IS SELF-MOTIVATION
Motivation is an inducement with a motive that causes motion or action. There is a motive behind every action and this motive produces a force that enhances the performance or outcome of that action.
A man who is motivated or induced with a motive will naturally perform better than a man without any form of motivation. The absence of motivation produces nonchalance and/or laziness.
Failure is a result of inaction and inaction is a result of lack of motivation, failure also is antagonistic to motivation. It can kill motivation when given the chance.
A great man is one who has learnt how to handle his failures and fears.

Self-motivation therefore is the act of staying focused on your motive and translating its power into a productive action with positive result.
It is an internal push within a person that causes him to take action in line with his motive. Self-motivation makes you active. It is the activation of a person’s life caused by the motives in his heart.
I boldly prescribe Self-motivation as the antidote for laziness and failure.

3. ATTAINING GREATNESS
To be great in life, you need to be a proactive person and the motive behind all you do on a daily bases should be hinged on attaining greatness.
When your state of mind is centered around greatness, it will make you to be two things:
A. An active person
B. A peoples person

You need to work and you need to be people conscious if you must be great. You do not necessarily have to do hard work but you need to work hard and better still, you need to work smart. Your aim should be to make as much people as you can successful in life.
This consciousness will keep you self-motivated at all times because you will always have what to do and you will always meet people who need your help.
So, stay motivated with good motives and your greatness in life with time will become obvious.
P.S. In order to remain self-motivated and become great, you need to read books, hang around great people and hear things that are in line with your motive: in this case – GREATNESS

About the Author

Michael Essien is a certified E-commerce consultant and C.E.O Realities Information Business Network (RIBnet), based in Port Harcourt, Nigeria.
I am involved in personal development couching. I believe you found this article inspiring. Visit my blog at http://www.stresscare.blogspot.com for regular updates…
Make money online at http://www.webfortune.com

Related Motivation Articles

Wallpaper Islami Februari 2010

By Ardi Muluk • February 27th, 2010

Wallpaper Islami yang dikeluarkan untuk bulan Februari 2010

World Class VS The Best

BUT — I’ve discovered it takes much less — usually around 1,000 hours of practicing something to become at least world-class at it. And world class is NOT a bad place to be in for most skills/talents/abilities. (this is also why I say achieve “almost” any goal… because if your goal is to be the very best… you DO need to be extremely driven and motivated)

You see, most REALLY high-achievers, the best in their respective fields often live a VERY unbalanced life — where other parts of their lives have been totally neglected to achieve whatever goal they’re obsessed with. That’s why so many high achievers have horrible relationships with their families, are divorced, etc…

Plus, for me at least, once I gain a high level of competency in a new skill or realize I’m at a certain level — I would rather seek out new skills, new challenges, and new ways to test myself — rather than try to be the absolute best at one thing at the expense of all others.

The choice is up to you — but I’m here to tell you it’s VERY possible to become world class in a number of desirable skills, just for example:

I’ve been a black belt for 8.5 years in Taekwondo and have won national and international titles (both in forms and sparring respectively)…
I can walk up to virtually any woman in virtually any situation and start a conversation — a completely “cold approach” — and I’ve done this, literally, hundreds of times. (something the average male is said to do only 7 times in his entire life, and most of those times while extremely drunk)
I’ve started multiple businesses and currently run two of them and my income is growing year after year…
I’ve written a 4 books, and co-authored 3 other products (counting off the top of my head here, but it’s probably more) in various industries and will continue pumping out more each year…

And there’s more, but my effort here is not to brag, but just to show you that it’s possible to accomplish many different goals and achieve many different things and even become world-class in many different pursuits. And the best part.
I Did It All Without a Single Ounce Of Motivation!

So I’ve decided to write a top 25 list of ways to achieve almost any goal… without… a single drop of motivation. Why? Because Rusty Moore over at Fitness Black Book tagged me to write a top 25 post.

Here is How This One Works

The rules…

Once you’ve been tagged, you are supposed to write a post with 25 random things, facts, habits, or goals about you. At the end, choose five more people to be tagged. You also have to tag the person who tagged you. If I tagged you, it’s because I want to know more about you. To do this, you simply link to their blogs so that they know you responded to their tag.